Berhati-hati ketika membujang

Anda sudah mengetahui keutamaan menikah, kecintaan Islam terhadap orang yang menikah, dan tuntunan Islam agar umatnya menikah melalui sabda dan perilaku Nabi SAW serta atsar para sahabat.

Adalah kewajiban kami menyampaikan kepada anda bahaya membujang bagi umat, selanjutnya anda bebas memilih dan menentukan sikap yang jelas antara urusan anda dan urusan agama.

Islam sangat mencela pilihan hidup membujang dan memberikan alas an-alasan sanggahan yang nyata dan telak atas orang-orang yang mengajak kepada gaya hidup kependetaan. Islam mengaskan bahwa tidak ada sikap hidup kependetaan dalam Islam, dan menjelaskan bahwa orang-orang yang enggan menikah seperti yang disyariatkan Allah SWT akan menggoyahkan eksistensi umat dan melemahkan kekuatannya. Orang yang enggan menikah juga akan mengalami kelainan psikologis yang kronis. Sudah dapat dipastikan, jika sikap enggan menikah melanda suatu umat maka banyak diantara kaum muda dari umat tersebut, baik pria maupun wanita yang terjerumus ke dalam kehidupan yang abnormal, bebas, menyimpang, dan merusak. Sebab, jika jiwa manusia tidak ditopang dengan ketakwaan dan muraqqabah kepada Allah SWT maka dia akan terperosok ke dalam kenikmatan syahwat dan terlena oleh tipu daya dan kehinaan, demi memuaskan nafsu birahinya dengan melakukan perzinaan dan prostitusi haram. Jika zina sudah menyebar di tengah suatu umat maka berarti umat tersebut telah diliputi oleh kehancuran dan kebinasaan.

Tidak disangsikan bahwa kehidupan pemuda lajang dipenuhi oleh sikap tidak acuh terhadap nilai-nilai luhur, dan jauh jika dibandingkan dengan orang yang menikah. Hal itu disebabkan karena dosa dan kejahatan yang mendorongnya memuaskan nafsu syahwatnya yang terabaikan dan perasaanya yang terpasung lebih dekat kepada dirinya dibanding orang yang menikah. Sikap istiqomah jarang ada pada pemuda yang masih lajang, berbeda halnya dengan orang yang sudah menikah.

Rasulullah SAW menyinggung kecendrungan hidup membujang ini pada sebagian sahabat. Beliau menyatakan bahwa sikap itu merupakan satu penyimpangan dari prinsip Islam, kecenderungan yang tidak bias diterima sekaligus sebagai bentuk penolakan terhadap petunjuk Nabi SAW. Oleh karena itu, beliau menjauhkan pemikiran-pemikiran semacam ini dari lingkungan Islam.

Dari Abu Qilabah disebutkan, beberapa orang dari kalangan sahabat ingin menolak dunia, menjauhi wanita, dan menempuh sikap hidup kependetaan. Maka rasulullah SAW mengomentari seraya berkata, “Kaum sebelum kalian hancur karena tasydid (meninggalkan urusan duniawi). Mereka bertasydid terhadap diri mereka maka Allah SWT akan bertasydid atas mereka. Sisa-sisa mereka ada di beberapa biara dan tempat pertapaan. Oleh karena itu sembahlah Allah dan jangan sekali-kali menyekutukan-Nya, kerjakanlah haji dan umrah, serta bersikaplah lurus, maka dia akan bersikap lurus kepada kalian”. (HR.Aburazzaq, Ibnu Hajar, dan Ibnu Mudzir).

Peradaban barat telah menjejali kita dengan semacam kebebasan. Mereka menyebutnya sebagai kebebsan individu, yang memberikan peluang kepada setiap orang untuk tetap membujang meskipun mempunyai kemampuan ekonomi. Hal itu dikarenakan tuntutan-tuntutan kebutuhan seksual yang bersifat pribadi telah tercukupi. Bentuk penyimpangan seksual ini dilakukan oleh sebagian anak muda sebagai upaya memperkaya dan menghindari diri dari beban pernikahan. Sesungguhnya kehidupan membujang dalam waktu lama merupakan pemicu keresahan, ketidaknyamanan, dan hilangnya kepercayaan diri.

Cukup banyak kita menyaksikan orang yang menunda-nunda pernikahan sampai waktu yang cukup lama, tiba-tiba tanpa disadari mereka sudah mencapai usia telat nikah.

Pernikahan merupakan suatu hal penting bagi kaum laki-laki. Bila tidak, mengapa orang-orang yang bercerai ingin menikah lagi?

Wahai generasi muda Islam, demikian itulan pandangan Islam terhadap pernikahan dan pembujangan. Maha Suci Allah lagi Maha Mengetahui apa yang terbaik dan bermanfaat bagi mahluk-Nya.

Oleh karena itu, bersegeralah menikah sesuai dengan kemampuan. Jauhilah hidup membujang, niscaya anda mendapatkan kebaikan, rezeki, dan pahala yang berlimpah.

0 komentar:

Post a Comment

About

My photo
Kolaka, Sulawesi Tenggara, Indonesia

Followers


Recents Post

Recents Comments